Kekayaan Lintas Batas

Hong Kong Menggeser Swiss sebagai Pusat Kekayaan Terbesar

Foto oleh John O’Nolan (@johnonolan) di Unsplash

Selama lebih dari satu abad, Swiss telah menjadi jawaban yang paling sering muncul atas pertanyaan tertentu: ke mana perginya kekayaan internasional ketika membutuhkan keahlian, kerahasiaan, dan stabilitas politik?

Pada tahun 2025, jawabannya berubah.

Hong Kong telah menggeser Swiss sebagai pusat kekayaan lintas batas terbesar di dunia, menurut laporan Boston Consulting Group’s Laporan Kekayaan Global 2026. Aset milik nasabah yang berdomisili di luar Hong Kong naik 10,7 persen menjadi $2,95 triliun, sedikit melampaui angka $2,94 triliun yang tercatat di Swiss. Ini merupakan kali pertama Hong Kong menduduki posisi teratas.

Perbedaannya hanya sebesar $10 miliar, angka yang nyaris dapat diabaikan dalam pasar yang nilainya mencapai triliunan. Namun, arah perkembangannya lebih penting daripada selisih angkanya. BCG memperkirakan Hong Kong dan Singapura akan memperluas bisnis pengelolaan kekayaan lintas batas mereka sekitar 9 persen per tahun hingga tahun 2030, dibandingkan dengan sekitar 6 persen untuk Swiss.

Hal ini bukanlah bukti bahwa Swiss tiba-tiba menjadi kurang relevan. Hal ini mencerminkan sesuatu yang lebih besar: penciptaan kekayaan semakin bergeser ke Asia, klien-klien berkekayaan tinggi semakin memilih penasihat yang berlokasi dekat dengan tempat tinggal mereka, dan pasar pengelolaan kekayaan global kini terpecah menjadi pusat-pusat regional, alih-alih berkumpul di sekitar satu pusat keuangan universal.

Mengapa Hong Kong Bisa Maju

Kebangkitan Hong Kong didorong oleh tiga faktor yang saling memperkuat satu sama lain pada tahun 2025: modal dari Tiongkok daratan, pasar saham yang mulai pulih, dan kebangkitan yang pesat dalam penawaran umum perdana.

BCG memperkirakan bahwa hampir 60 persen kekayaan lintas batas yang terdaftar di Hong Kong berasal dari Tiongkok Daratan. Taiwan menyumbang 13 persen lagi, sedangkan Jepang sekitar 7 persen, sehingga kota ini sangat bergantung pada klien-klien Asia, khususnya kekayaan asal Tiongkok.

Konsentrasi tersebut membantu Hong Kong tumbuh dengan pesat seiring dengan upaya para pengusaha, pemilik bisnis, dan keluarga kaya asal Tiongkok untuk mengakses produk-produk sekuritas, mata uang, asuransi, dan pengelolaan aset internasional.

Hong Kong juga kembali memantapkan posisinya sebagai pusat pasar modal ekuitas. Selama sembilan bulan pertama tahun 2025, perusahaan-perusahaan mengumpulkan dana sebesar HK$182,9 miliar melalui 67 pencatatan saham, menurut KPMG. Dana yang terkumpul tersebut meningkat 229 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama didorong oleh perusahaan-perusahaan Tiongkok yang menambahkan pencatatan saham di Hong Kong di samping pencatatan di daratan Tiongkok.

Boom penawaran umum perdana (IPO) berdampak pada perbankan swasta dalam beberapa hal.

Hal ini melahirkan para pendiri dan eksekutif yang baru saja menjadi kaya. Hal ini mengubah kepemilikan bisnis swasta menjadi sekuritas yang likuid. Hal ini menciptakan permintaan akan diversifikasi, perencanaan pajak, pinjaman, dan konsultasi suksesi. Hal ini juga menarik investor internasional yang membutuhkan akses ke pasar lokal dan layanan kustodian.

Klien pengelolaan kekayaan yang paling berharga seringkali bukanlah seseorang yang telah mengumpulkan uang secara bertahap. Melainkan seorang pendiri perusahaan yang perusahaannya baru saja go public dan neraca keuangannya berubah hampir dalam semalam.

Hong Kong terletak tak jauh dari sumber kekayaan tersebut.

Pintu Gerbang Menuju Tiongkok, Bukan Swiss yang Baru

Seringkali kita tergoda untuk menggambarkan Hong Kong sebagai "Swiss yang baru". Perbandingan tersebut hanya berguna sampai batas tertentu.

Kedua pusat tersebut melayani pasar yang berbeda dan memperoleh kekuatannya dari sumber yang berbeda.

Keunggulan Hong Kong terletak pada kedekatannya dengan Tiongkok. Hal ini memungkinkan perusahaan-perusahaan Tiongkok dan keluarga-keluarga kaya untuk mengakses pasar internasional, sekaligus memberikan jalan bagi lembaga-lembaga keuangan global untuk masuk ke ekonomi terbesar kedua di dunia.

Keunggulan Swiss terletak pada diversifikasi. Bank-bank swasta di negara itu melayani nasabah dari Eropa, Timur Tengah, Amerika Latin, Asia, dan kawasan lainnya. Tidak ada satu pun pasar asal yang mendominasi bisnis lintas batasnya sedemikian rupa seperti halnya Tiongkok daratan mendominasi bisnis lintas batas Hong Kong.

Perbedaan tersebut mengubah profil risikonya.

Hong Kong dapat tumbuh lebih cepat ketika pasar Tiongkok sedang kuat, perusahaan-perusahaan melakukan pencatatan saham, dan modal mengalir ke luar negeri. Hong Kong juga mungkin lebih rentan terhadap perubahan kebijakan Beijing terkait investasi luar negeri, kekayaan swasta, dan pengendalian modal.

Basis nasabah Swiss yang lebih luas mungkin menghasilkan pertumbuhan yang lebih lambat, namun ketahanan yang lebih besar ketika salah satu wilayah mengalami pelemahan.

Gambaran yang lebih akurat bukanlah bahwa Hong Kong akan menggantikan Swiss di segala bidang. Melainkan, terdapat dua sistem pengelolaan kekayaan yang semakin berbeda: Hong Kong dan Singapura melayani modal dari Asia, sementara Swiss, Inggris, dan AS tetap menjadi pusat bagi klien-klien dari Barat dan yang portofolionya terdiversifikasi secara global.

Peringkat tersebut mengukur aset yang telah dicatat, bukan setiap keunggulan

Peringkat BCG mengacu pada kekayaan lintas batas yang tercatat di setiap pusat keuangan. Peringkat ini tidak mengukur setiap aspek industri perbankan swasta suatu negara.

Pusat pencatatan adalah yurisdiksi tempat aset klien disimpan atau dikelola, yang mungkin berbeda dari tempat tinggal klien, lokasi penasihat, atau tempat pengambilan keputusan investasi.

Aset lintas batas juga dapat meningkat karena nilai pasar naik, bukan hanya karena klien mentransfer dana baru ke yurisdiksi tersebut. Pada tahun 2025, Hong Kong mendapat manfaat dari kenaikan pasar saham dan membaiknya kinerja perusahaan-perusahaan teknologi dan internet besar asal Tiongkok, serta masuknya dana baru.

Oleh karena itu, angka utama tersebut tidak boleh dipandang sekadar sebagai ukuran jumlah simpanan yang berhasil diraih dari para pesaing.

Selain itu, total aset yang lebih besar pun belum tentu berarti bahwa Hong Kong unggul dalam hal profitabilitas, kualitas layanan, mandat diskresioner, atau keahlian investasi.

Swiss tetap menjadi salah satu negara dengan kumpulan talenta perbankan swasta paling mumpuni di dunia. Lembaga-lembaga di negara ini memiliki pengalaman puluhan tahun dalam mengelola portofolio internasional, struktur keluarga yang kompleks, yayasan, perwalian, rencana suksesi, serta masalah perpajakan lintas yurisdiksi.

Penilaian BCG sendiri menunjukkan bahwa Swiss tetap memimpin dalam hal keahlian investasi. Bank-bank Swiss juga berperan aktif di Asia, bukan sekadar menjadi pengamat pasif terhadap pertumbuhan kawasan tersebut.

UBS, bank terbesar di negara tersebut, memegang posisi terdepan dalam bidang pengelolaan kekayaan baik di Hong Kong maupun Singapura. Oleh karena itu, pergeseran geografis aset yang tercatat dapat menguntungkan lembaga-lembaga Swiss, meskipun dana tersebut sendiri tidak lagi tercatat di Swiss.

Bank-bank Global Mengikuti Jejak Nasabahnya

Model perbankan swasta lama berasumsi bahwa keluarga-keluarga kaya akan pergi ke pusat keuangan yang sudah mapan dan menempatkan aset mereka di sana.

Model yang mulai berkembang ini lebih berorientasi regional. Bank-bank mendekatkan platform investasi, penasihat, dan layanan pemesanan kepada para nasabah yang menciptakan kekayaan tersebut.

Hal ini sebagian besar berkaitan dengan masalah kenyamanan. Para pengusaha di Hong Kong, Shenzhen, atau Singapura tidak selalu ingin setiap keputusan harus melalui Zurich, London, atau New York.

Hal ini juga dipengaruhi oleh regulasi. Aturan transparansi perpajakan, persyaratan data, dan pengawasan yang lebih ketat terhadap kegiatan pemasaran lintas batas membuat semakin sulit untuk melayani klien dari jarak jauh hanya melalui kunjungan sesekali.

Keberadaan fisik memungkinkan bank untuk membangun hubungan dengan masyarakat setempat, memahami kepemilikan usaha, dan menanggapi perubahan dalam keadaan keluarga. Hal ini juga membantu mereka bersaing untuk menarik generasi berikutnya, yang mungkin kurang terikat pada lembaga keuangan yang digunakan oleh orang tua atau kakek-nenek mereka.

Hal ini menjelaskan mengapa para manajer kekayaan internasional terus berinvestasi pada penasihat, teknologi, layanan kustodian, dan tim produk di Asia, meskipun regulasi di kawasan tersebut cukup rumit.

Kelompok tengah yang menang mungkin bukanlah yang memiliki reputasi historis terkuat. Mungkin justru kelompok yang mampu menempatkan penasihat-penasihat tepercaya sedekat mungkin dengan kelompok pemegang kekayaan yang tumbuh paling pesat.

Pertumbuhan Hong Kong Tidak Bebas Risiko

BCG memperkirakan Hong Kong akan tetap memimpin, namun proyeksi tersebut sangat bergantung pada kemampuannya untuk terus berperan sebagai perantara kekayaan Tiongkok.

Kontrol modal yang diterapkan Beijing tetap menjadi kendala yang paling nyata.

Tiongkok membatasi jumlah uang yang dapat ditransfer oleh individu ke luar negeri dan telah memperketat pengawasan terhadap saluran yang digunakan untuk investasi di luar negeri. Reuters melaporkan pada Juni 2026 bahwa pihak berwenang telah menjatuhkan sanksi kepada platform-platform yang dituduh memfasilitasi perdagangan luar negeri tanpa izin, dan bahwa beberapa bank telah membatasi pembukaan rekening tertentu di Hong Kong bagi nasabah dari daratan Tiongkok.

Hal ini menimbulkan ketegangan di inti penawaran layanan pengelolaan kekayaan Hong Kong.

Nilai kota ini berasal dari keterhubungannya dengan Tiongkok daratan maupun pasar modal internasional. Namun, semakin kota ini memfasilitasi aliran keluar kekayaan rumah tangga, semakin besar kemungkinan kota ini menarik perhatian pihak berwenang yang khawatir akan terjadinya pelarian modal.

Oleh karena itu, Hong Kong didorong untuk mengembangkan peran-peran keuangan lainnya, termasuk berperan sebagai pusat keuangan bagi perusahaan-perusahaan Tiongkok yang sedang berekspansi ke pasar internasional. Bisnis tersebut mungkin memiliki arti strategis, namun margin keuntungannya bisa jadi lebih rendah dibandingkan dengan layanan perbankan pribadi bagi individu-individu kaya.

Kota ini juga tetap rentan terhadap sentimen pasar saham Tiongkok. Penurunan nilai perusahaan yang berkepanjangan atau melemahnya prospek penawaran umum perdana (IPO) akan menurunkan nilai aset sekaligus menghambat penciptaan kekayaan swasta baru.

Keunggulan Hong Kong memang meyakinkan. Namun, keberlanjutannya tidak seberapa pasti dibandingkan dengan yang mungkin disiratkan oleh proyeksi pertumbuhan lima tahun.

Swiss Masih Menjadi Pilihan Utama dalam Perdagangan Aset Safe-Haven

Keunggulan terbesar Swiss menjadi sangat jelas ketika risiko politik meningkat.

Pada awal tahun 2026, para manajer kekayaan Swiss melaporkan meningkatnya minat dari klien di kawasan Teluk yang ingin memindahkan aset mereka di tengah konflik yang semakin memanas di Timur Tengah. Reuters mewawancarai para bankir dan penasihat yang mengelola aset senilai lebih dari $1 triliun, yang memperkirakan Swiss akan menarik arus modal tambahan dari kawasan tersebut.

Franc Swiss juga menguat seiring para investor berbondong-bondong mencari aset-aset safe haven tradisional, sehingga mendorong Bank Nasional Swiss untuk menunjukkan kesiapan yang lebih besar untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing.

Hal ini menggambarkan suatu aspek yang sulit ditiru melalui insentif pajak atau produk keuangan baru.

Reputasi Swiss didasarkan pada netralitas politik, stabilitas moneter, kepastian hukum, dan rekam jejak panjang dalam melindungi hak milik pribadi. Sektor keuangannya telah menghadapi tantangan besar, termasuk kebangkrutan Credit Suisse pada tahun 2023 dan perdebatan selanjutnya mengenai persyaratan modal UBS. Namun, negara ini tetap menarik dana ketika klien-klien kaya merasa khawatir akan perang, politik dalam negeri, atau ketidakstabilan institusional.

Status sebagai tempat berlindung yang aman tidak sama dengan pertumbuhan aset yang berkelanjutan. Mata uang Swiss yang kuat dapat menimbulkan ketidaknyamanan secara ekonomi, dan peraturan perbankan yang lebih ketat dapat meningkatkan biaya.

Namun, dalam bidang pengelolaan kekayaan pribadi, kredibilitas di masa krisis merupakan aset komersial.

Hong Kong mungkin menarik kekayaan karena para klien ingin memanfaatkan peluang pertumbuhan. Swiss menarik sebagian kekayaannya karena para klien takut kehilangan apa yang sudah mereka miliki.

Masalah UBS di Swiss

Ketergantungan Swiss pada UBS merupakan kekuatan sekaligus kelemahan.

Setelah mengakuisisi Credit Suisse, UBS menjadi semakin penting bagi sistem keuangan negara tersebut dan posisinya di bidang pengelolaan kekayaan global. Skala operasinya memungkinkan perusahaan ini bersaing di Swiss, Asia, Amerika Serikat, dan pasar-pasar utama lainnya.

Pemerintah Swiss telah mengusulkan persyaratan modal yang lebih ketat, termasuk aturan yang mewajibkan UBS untuk menyisihkan modal lebih besar guna menanggung risiko dari anak perusahaan di luar negeri. UBS berpendapat bahwa perubahan tersebut dapat mengurangi daya saingnya, sementara Bank Nasional Swiss menegaskan bahwa bank tersebut memiliki modal yang cukup untuk memenuhi standar yang diusulkan.

Perselisihan ini memiliki dampak yang melampaui satu lembaga saja.

Swiss menginginkan sistem perbankan yang cukup kuat untuk bertahan dari krisis parah tanpa perlu bantuan pemerintah. Swiss juga ingin agar UBS tetap kompetitif dengan lembaga-lembaga di AS dan Asia yang beroperasi di bawah kerangka regulasi yang berbeda.

Aturan yang lebih ketat mungkin dapat memperkuat kepercayaan terhadap Swiss sebagai pusat keuangan yang aman. Hal itu juga bisa mendorong UBS untuk mengalihkan lebih banyak bisnis ke tempat lain atau berinvestasi secara lebih agresif di wilayah-wilayah Asia yang pertumbuhannya lebih pesat.

Hasilnya akan menentukan apakah Swiss akan tetap tidak hanya sebagai pengelola kekayaan yang tepercaya, tetapi juga sebagai basis operasional yang menarik bagi bank-bank yang mengelolanya.

Singapura Adalah Pemenang Lainnya

Persaingan ini bukan sekadar antara Hong Kong dan Swiss.

Singapura telah menjadi pusat utama kedua di Asia untuk kekayaan pribadi, kantor keluarga, dan investasi lintas batas. Negara ini sangat diminati oleh klien dari Asia Tenggara dan keluarga-keluarga internasional yang mencari stabilitas politik, lembaga hukum yang kokoh, serta akses ke pasar regional.

Meskipun pertumbuhan Hong Kong sangat terkait erat dengan Tiongkok, Singapura menawarkan basis di Asia yang lebih beragam secara geografis.

Kedua kota tersebut semakin bersaing untuk menarik para bankir, kantor keluarga, dan mandat pengelolaan aset. Keduanya juga saling melengkapi. Keluarga-keluarga kaya mungkin membagi aset mereka di antara kedua kota tersebut, sama seperti klien internasional yang secara historis telah menggunakan beberapa pusat layanan di Eropa.

BCG memperkirakan bahwa baik Hong Kong maupun Singapura akan mencatatkan pertumbuhan bisnis kekayaan lintas batas masing-masing sebesar hampir 9 persen per tahun hingga tahun 2030.

Hal ini semakin memperkuat tren yang lebih luas. Asia kini tidak lagi sekadar menjadi sumber klien yang asetnya dikelola di Eropa. Asia kini semakin menjadi tempat di mana kekayaan diciptakan, dicatat, dan dikelola.

Kekayaan Global Semakin Terkonsentrasi di Tingkat Regional

Kekayaan lintas batas di seluruh dunia meningkat sekitar 8,4 persen pada tahun 2025 menjadi antara $15,6 triliun dan $15,7 triliun, tergantung pada pembulatan dalam materi yang diterbitkan oleh BCG. Pasar keuangan yang kuat turut berkontribusi terhadap kenaikan tersebut, begitu pula permintaan akan diversifikasi geografis.

Fragmentasi geopolitik mendorong keluarga-keluarga kaya untuk memanfaatkan lebih dari satu yurisdiksi.

Seorang pengusaha Tiongkok mungkin menyimpan sebagian kekayaan keluarganya di Hong Kong atau Singapura. Sebuah keluarga dari Timur Tengah mungkin memilih Swiss atau London. Seorang pendiri perusahaan teknologi yang sering berpindah-pindah ke berbagai negara mungkin membagi asetnya di antara AS, Eropa, dan Asia.

Tujuannya kini tidak lagi semata-mata untuk mengidentifikasi satu pusat offshore yang sempurna. Melainkan untuk mengurangi ketergantungan pada satu negara, mata uang, bank, atau sistem politik mana pun.

Hal itu membuka peluang bagi lembaga-lembaga yang mampu beroperasi di beberapa pusat bisnis. Hal itu juga membuat kepatuhan terhadap peraturan menjadi lebih rumit, karena bank harus memahami berbagai status domisili pajak, struktur kepemilikan, dan rezim sanksi.

Bagi klien, diversifikasi geografis dapat mengurangi beberapa risiko sekaligus menimbulkan risiko lain: biaya yang lebih tinggi, tumpang tindihnya struktur, dan paparan terhadap aturan yang saling bertentangan.

Semakin banyak pusat pemesanan tidak lantas berarti rencana kekayaan yang lebih baik.

Apa Artinya Perubahan Ini bagi Klien

Bagi keluarga kaya yang harus memilih antara Hong Kong dan Swiss, peringkat utama seharusnya tidak menjadi penentu keputusan.

Hong Kong mungkin menawarkan akses yang lebih luas ke pasar Tiongkok, peluang investasi regional, modal ventura Asia, serta para penasihat yang memahami struktur bisnis di Tiongkok Daratan.

Swiss mungkin lebih cocok untuk portofolio yang terdiversifikasi secara global, layanan kustodian di Eropa, perencanaan suksesi, serta keluarga yang ingin menjauh dari ketidakstabilan politik di wilayah asal mereka.

Singapura dapat menawarkan kombinasi lain: akses ke pasar Asia dalam lingkungan hukum common law yang berbahasa Inggris serta pusat keuangan yang tidak terlalu bergantung pada satu negara asal.

Pertanyaan-pertanyaan yang relevan bersifat praktis. Di mana keluarga tersebut tinggal dan menjalankan usahanya? Dalam mata uang apa kewajiban-kewajibannya dinyatakan? Yurisdiksi mana yang mengakui perwalian atau yayasan miliknya? Di mana generasi berikutnya akan tinggal? Apa yang akan terjadi jika kebijakan pengendalian modal atau sanksi berubah?

Pusat pemesanan terbesar belum tentu yang terbaik bagi setiap klien.

The Crown Telah Berpindah, tetapi Pasar Terbelah

Kenaikan Hong Kong ke peringkat pertama bukan sekadar fenomena statistik yang menarik. Hal ini menandai titik di mana penciptaan kekayaan di Asia berbuah menjadi kepemimpinan di pasar aset lintas batas.

Namun, hal itu tidak menandakan berakhirnya Swiss.

Model Swiss kini menjadi bagian dari sistem yang lebih bersifat regional. Hong Kong dan Singapura semakin memperkuat peran mereka di Asia, sementara Swiss, Inggris, dan Amerika Serikat tetap menjadi pusat bagi kekayaan Barat dan kekayaan yang terdiversifikasi secara internasional.

Keunggulan kompetitif yang menentukan akan semakin bergantung pada kemampuan untuk beroperasi secara kredibel di seluruh sistem tersebut.

Hong Kong berhasil menduduki peringkat teratas karena lokasinya yang paling dekat dengan salah satu sumber kekayaan baru terbesar di dunia. Swiss tetap memiliki pengaruh karena dipercaya oleh klien dari berbagai latar belakang, terutama ketika kondisi memburuk.

Satu pusat mendapatkan keuntungan dari tempat di mana kekayaan diciptakan. Pusat lainnya terus mendapatkan keuntungan dari tempat di mana kekayaan mencari perlindungan.