Hong Kong menggeser Swiss sebagai pusat pengelolaan kekayaan offshore global

Foto oleh Paolo Syiaco (@paosyia) di Unsplash

Hong Kong telah menggeser Swiss sebagai pusat kekayaan lintas batas terbesar di dunia, menandai pergeseran simbolis dalam industri yang telah lama dikaitkan dengan perbankan swasta Swiss. Manajer kekayaan di Hong Kong diperkirakan mengelola aset internasional senilai $2,95 triliun pada tahun 2025, sedikit melampaui angka Swiss sebesar $2,94 triliun, setelah pusat keuangan Asia tersebut mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 10,7%. Selisihnya memang kecil, tetapi faktor-faktor di baliknya tidaklah kecil: kekayaan di Asia terus berkembang, modal dari Tiongkok daratan mencari akses ke pasar internasional, dan keluarga-keluarga kaya semakin sering membagi aset mereka di beberapa yurisdiksi daripada hanya mengandalkan satu pusat keuangan saja.

Swiss tetap menjadi salah satu pasar pengelolaan kekayaan terpenting di dunia, didukung oleh stabilitas politik, keahlian khusus, dan industri perbankan swasta yang telah dibangun selama beberapa generasi. Oleh karena itu, kemajuan Hong Kong tidak berarti menggantikan posisi Swiss, melainkan lebih merupakan penataan ulang arus kekayaan global. Pusat gravitasi sedang bergeser ke timur seiring dengan pertumbuhan kekayaan di Asia yang lebih pesat dibandingkan dengan kekayaan mapan yang secara tradisional dikelola di Eropa, sementara para klien merespons ketidakpastian geopolitik dengan menyebar aset mereka ke berbagai pusat keuangan yang memiliki mata uang, sistem hukum, dan akses pasar yang berbeda-beda.

Tiongkok menjadi pendorong kemajuan Hong Kong

Kebangkitan Hong Kong terutama bergantung pada hubungannya dengan Tiongkok Daratan, yang menyumbang sekitar 60% dari kekayaan lintas batas yang tercatat di wilayah tersebut. Posisi ini memberi pengusaha Tiongkok dan keluarga kaya akses ke bank-bank internasional, produk investasi, dan pasar modal, sekaligus memungkinkan lembaga-lembaga global melayani klien yang terhubung dengan ekonomi terbesar kedua di dunia. Pemulihan pasar ekuitas Hong Kong dan meningkatnya aktivitas penawaran umum perdana (IPO) pada tahun 2025 semakin memperkuat daya tarik tersebut dengan menciptakan kekayaan baru, menyediakan likuiditas bagi para pendiri perusahaan, serta menarik kembali modal internasional ke kota ini.

Hubungan ini sangat kuat secara komersial, namun juga menimbulkan risiko konsentrasi. Hong Kong diuntungkan ketika penciptaan kekayaan, aktivitas korporasi, dan investasi lintas batas di Tiongkok Daratan sedang kuat, namun lembaga-lembaga keuangannya tetap rentan terhadap perubahan dalam kontrol modal dan kebijakan regulasi Tiongkok. Pemeriksaan ketat yang baru-baru ini dilakukan Beijing terhadap saluran investasi luar negeri yang tidak sah telah mengingatkan bank, perusahaan asuransi, dan manajer kekayaan bahwa akses ke klien di daratan Tiongkok pada akhirnya bergantung pada aturan yang ditetapkan di luar industri keuangan Hong Kong. Oleh karena itu, hubungan yang sama yang telah mendorong kota ini melampaui Swiss dapat membuat pertumbuhan di masa depan menjadi lebih tidak stabil.

Swiss kehilangan posisi terdepan, namun tidak kehilangan relevansinya

Posisi Swiss telah berubah secara signifikan sejak era di mana kerahasiaan perbankan menjadi inti daya tarik internasionalnya. Pertukaran informasi pajak secara otomatis, pengendalian anti-pencucian uang yang lebih ketat, serta pengawasan yang lebih ketat terhadap aset yang tidak dilaporkan telah memaksa bank-bank Swiss untuk menggantikan kerahasiaan tersebut dengan penawaran yang didasarkan pada keahlian, keamanan, stabilitas politik, dan layanan konsultasi lintas batas yang canggih. Perubahan-perubahan ini telah membuat pasar menjadi lebih transparan, namun tidak menghilangkan keunggulan yang diciptakan oleh konsentrasi yang tinggi dari bank-bank swasta, pengacara, wali amanat, manajer aset, dan penasihat multibahasa.

Meskipun demikian, model Swiss menghadapi pertumbuhan kekayaan mendasar yang lebih lambat dibandingkan pesaing-pesaingnya di Asia serta tekanan yang lebih besar untuk mempertahankan daya saingnya. Hong Kong, Singapura, Dubai, dan Amerika Serikat semuanya menarik klien internasional karena berbagai alasan, sehingga memberikan keluarga-keluarga kaya alternatif yang lebih kredibel daripada yang mereka miliki dua dekade lalu. Swiss tidak dapat lagi berasumsi bahwa reputasi historisnya saja akan menjamin keunggulannya, terutama karena kekayaan baru tercipta di wilayah-wilayah di mana klien lebih memilih pusat keuangan yang lebih dekat dengan bisnis, keluarga, dan peluang investasi mereka.

Kekayaan di luar negeri semakin terdiversifikasi

Istilah “kekayaan lepas pantai” sering kali dikaitkan dengan kerahasiaan atau penghindaran pajak, namun dalam pengelolaan kekayaan modern, istilah ini secara lebih luas merujuk pada aset yang dicatat di luar yurisdiksi asal pemiliknya. Keluarga-keluarga kaya mungkin memanfaatkan beberapa pusat keuangan untuk mengakses berbagai mata uang, bank, pasar investasi, struktur hukum, atau lingkungan politik yang berbeda. Seorang pengusaha Tiongkok mungkin menyimpan aset di Hong Kong dan Singapura, sebuah keluarga Eropa mungkin menggabungkan Swiss dengan Amerika Serikat atau Dubai, dan sebuah keluarga yang sering berpindah-pindah secara internasional mungkin menggunakan beberapa yurisdiksi untuk bagian-bagian kekayaannya yang berbeda.

Diversifikasi ini semakin penting karena sanksi, pemilihan umum, kontrol modal, dan sengketa geopolitik menimbulkan risiko yang tidak dapat diatasi hanya melalui alokasi aset konvensional saja. Klien tidak lagi hanya mendiversifikasi portofolio mereka di antara saham, obligasi, dan properti; mereka juga mendiversifikasi yurisdiksi, lembaga kustodian, dan sistem hukum tempat aset-aset tersebut disimpan. Oleh karena itu, kemajuan Hong Kong merupakan bagian dari fragmentasi kekayaan global yang lebih luas, di mana tidak ada satu pusat pun yang diharapkan dapat memenuhi semua kebutuhan.

Kantor keluarga kini menjadi bagian dari persaingan

Hong Kong berupaya memperkuat posisinya dengan menarik minat kantor keluarga dan memperluas layanan yang tersedia bagi keluarga-keluarga kaya. Insentif pajak, program imigrasi berbasis investasi, akses ke pasar modal, serta ekosistem penasihat yang terus berkembang dimaksudkan untuk menjadikan kota ini sebagai pusat tidak hanya bagi pengelolaan portofolio, tetapi juga bagi perencanaan suksesi, kegiatan filantropi, investasi swasta, dan tata kelola keluarga.

Persaingan ini tidak terbatas pada Hong Kong dan Swiss. Singapura telah membangun sektor family office yang kuat, meskipun pengawasan yang lebih ketat pasca kasus-kasus pencucian uang telah sedikit memperlambat momentumnya. Dubai dan Abu Dhabi menarik keluarga-keluarga internasional melalui kebijakan perpajakan yang menguntungkan, stabilitas politik, serta akses ke pasar yang mencakup Eropa, Asia, dan Afrika. Akibatnya, pasar menjadi lebih kompetitif, di mana pusat-pusat keuangan harus menawarkan lingkungan pengelolaan kekayaan yang lengkap, bukan hanya mengandalkan layanan perbankan saja.

Bagi kantor keluarga, kedekatan dengan peluang investasi seringkali sama pentingnya dengan aspek perpajakan atau regulasi. Hong Kong menawarkan akses langsung ke pasar modal Asia, perusahaan swasta, modal ventura, dan transaksi yang berkaitan dengan Tiongkok, sementara Swiss tetap memiliki keunggulan dalam hal pelestarian kekayaan, diversifikasi global, dan struktur multigenerasi yang kompleks. Oleh karena itu, pilihan di antara keduanya jarang bersifat mutlak; banyak keluarga besar akan memanfaatkan keduanya.

Regulasi tetap menjadi bagian dari proposisi nilai

Pusat-pusat keuangan sering kali menggambarkan regulasi sebagai beban, namun dalam pengelolaan kekayaan, pengawasan yang kredibel juga merupakan bagian dari produk itu sendiri. Klien perlu yakin bahwa aset mereka disimpan dengan aman, transaksi dapat diselesaikan, dan hak-hak hukum akan ditegakkan. Di sisi lain, aturan yang terlalu rumit atau tidak dapat diprediksi dapat mendorong bisnis berpindah ke tempat lain, terutama ketika keluarga memiliki beberapa yurisdiksi yang layak untuk dipilih.

Hong Kong harus mengelola keseimbangan ini dengan hati-hati. Tradisi hukum common law-nya, mata uang yang dapat dikonversi secara bebas, dan sistem perbankan internasionalnya telah lama membedakannya dari Tiongkok daratan; namun, para investor terus menilai bagaimana integrasi politik dapat memengaruhi otonomi regulasi dan kepastian hukum. Swiss menghadapi tantangan yang berbeda: standar-standarnya sangat dipercaya, tetapi para manajer kekayaan semakin berpendapat bahwa negara tersebut harus merespons persaingan dengan lebih cepat dan menghindari aturan yang membuat pelayanan klien menjadi tidak perlu rumit.

Tak satu pun dari kedua pusat tersebut dapat berkembang hanya dengan mengandalkan kelonggaran regulasi. Pusat-pusat yang paling kuat adalah yang mampu memadukan pengawasan yang ketat dengan proses penerimaan klien yang efisien, transparansi perpajakan, infrastruktur digital, serta perlakuan yang dapat diprediksi terhadap klien internasional.

Teknologi mengubah wajah perbankan swasta

Persaingan dalam mengelola kekayaan lintas batas kini juga semakin didorong oleh perkembangan teknologi. Nasabah berkekayaan tinggi mengharapkan pelaporan terpadu, proses pendaftaran digital, serta akses aman ke portofolio yang tersebar di berbagai bank dan yurisdiksi. Lembaga-lembaga yang dulu membedakan diri terutama melalui hubungan personal kini harus mendukung hubungan tersebut dengan data yang lebih baik, administrasi yang lebih cepat, dan gambaran yang lebih jelas mengenai aset-aset yang kompleks.

Sektor keuangan Hong Kong sedang berinvestasi besar-besaran dalam platform digital, sementara kedekatannya dengan perusahaan teknologi Asia memberinya akses terhadap inovasi di bidang pembayaran, kecerdasan buatan, dan analisis klien. Manajer kekayaan Swiss tetap memiliki keahlian yang kuat dalam memberikan nasihat yang disesuaikan dengan kebutuhan klien, namun harus terus memodernisasi sistem yang sering kali dibangun berdasarkan institusi individu, bukan klien yang asetnya tersebar di seluruh dunia. Teknologi tidak akan menggantikan kepercayaan dalam perbankan swasta, meskipun teknologi tersebut akan semakin menentukan apakah kepercayaan tersebut didukung oleh layanan yang efisien dan transparan.

Keunggulan Hong Kong mungkin akan semakin melebar, namun belum aman

BCG memperkirakan selisih antara Hong Kong dan Swiss akan mendekati $600 miliar pada tahun 2030 seiring dengan terus berkembangnya kekayaan di Asia. Perkiraan tersebut mencerminkan kekuatan industri Tiongkok, pemulihan pasar modal Hong Kong, serta akumulasi kekayaan swasta yang semakin meluas di seluruh Asia. Posisi Hong Kong sebagai pusat keuangan terkemuka di kawasan ini juga tetap kuat: kota ini menempati peringkat ketiga secara global dalam Indeks Pusat Keuangan Global terbaru, hanya berada di belakang New York dan London.

Namun demikian, prospek ke depan sangat bergantung pada apakah Hong Kong mampu mempertahankan karakteristik yang membuatnya berperan penting sebagai gerbang internasional. Akses berkelanjutan ke kekayaan daratan Tiongkok, rekening modal yang terbuka, kepastian hukum, dan kepercayaan di kalangan lembaga global akan lebih penting daripada target promosi. Pembatasan baru terhadap arus keluar modal dari Tiongkok, melemahnya harga aset Tiongkok dalam jangka panjang, atau meningkatnya kekhawatiran akan intervensi politik dapat memperlambat arus masuk modal yang menjadi pendorong keunggulan Hong Kong belakangan ini.

Sementara itu, Swiss tampaknya tidak akan mundur begitu saja. Bank-bank swasta di negara itu masih mengelola portofolio internasional yang sangat besar, dan Swiss tetap memiliki reputasi stabilitas yang menjadi sangat berharga terutama saat krisis. Tantangannya adalah memodernisasi penawaran layanan tanpa melemahkan kualitas-kualitas yang menjadi landasan reputasi tersebut.

Oleh karena itu, naiknya Hong Kong ke peringkat pertama menandai perubahan nyata dalam industri pengelolaan kekayaan global, namun bukan berarti munculnya pemenang permanen. Industri ini semakin bersifat regional, semakin kompetitif, dan semakin bergantung pada klien yang secara sengaja membagi kekayaan mereka di antara beberapa pusat. Hong Kong kini memegang pangsa pasar lintas batas terbesar, namun masa depan tidak akan lagi menjadi milik yurisdiksi yang menarik semua aset, melainkan milik yurisdiksi yang mampu tetap menjadi bagian yang tak tergantikan dalam sistem global yang semakin beragam.